antara seni dan pornografi

Sebenarnya tak ada yang baru dalam kontroversi sekitar pornografi – dari kata Yunani porne artinya ‘wanita jalang’ dan graphos artinya gambar atau tulisan.nah jelas bahawa pornografi tak lain adalah potret para wanita yang mengumbar auratnya. Akan tetapi banyak terjadi kontroversi antar seni dan pornografi. Bagi kalangan yang membela pornografi tentunya mereka selalu berdalih bahwa apa yang lakukan itu adalah seolah-olah mengatas namakan sebuah seni. Padahal kita tahu bahawa seni itu yang sebenarnya seperti apa. Bukankah seni itu selalu identik dengan susuatu yang indah, dan keindahan itu cermin dari sebuah kebaikan….? Nah sekarang kita berfikir apakan yang foto-foto ataupun video yang menggambarkan aurat dan menimbulkan syahwat itu adalah suatu kebaikan,,,,? Dan bagaimana jika semua itu di ketahui atau di lihat oleh anak-anak …? Tentunya kita semua dapat berfikir dengan jernih dan dapat membedakan mana itu suatu karya seni dan mana yang pornografi.

Berhubung semakin banyaknya kontroversi mengenai arti dari seni dan pornografi, maka di Negara kita sendiri pun sudah ada UU yang mengatur semua itu. Akan tetapi bukti dari ketajaman UU tersebut dalam memberantas pornografi di Negara kita ini masih di pertanyakan. Hal ini masih terkait dengan adanya kontroversi dalam pembuatan UU itu sendiri. Nah sekarang bagaimana pornografi dapat di berantas kalau alat yang di gunakan untuk memberantas itu sendiri tidak jelas? Hal lagi-lagi di sebabkan oleh faktor pemikiran yang keliru yaitu mengatasnamakan sebuah pornografi itu dengan kesenian. Padahal sangat jelas perbedaannya. Masalah pornografi bukalah suatu pemikiran  yang setuju atau tidak, tetapi pornografi memang harus di tiadakan. Hal ini karena selain bertentangan dengan norma-norma agama dan social, pornografi juga dapat merusak moral bangsa. Selain dari pada itu pornografi juga tidak dapat di artikan sebagai salah satu bentuk dari sebuah karya seni.

Arti dari kata seni itu sendiri adalah sebuah ekspresi dari sebuah kebebasan. Dan kebebasan adalah sesuatu  yang sangat berharga yang dimiliki oleh semua orang tanpa batas yang tidak tersentuh oleh apa yang disebut belenggu. Arti mengenai kebebasan inilah termasuk salah satu yang menjadi nafas bagi sebuah bentuk berkesenian. Akan tetapi persoalan kebebasan berekspresi dalam dunia seni adalah polemik dan wacana yang terus berkembang dari masa ke masa, benarkah bebas dalam berkesenian secara absolute menjadikan segala sesuatunya menjadi bebas tanpa batas dan digunakan sebagai  dasar pembenar bagi logika-logika mereka yang mengklaim karya mereka sebagai sebuah karya seni? sebagian pihak berpendapat bahwa memasung ekspresi dalam dunia seni adalah bentuk pembunuhan terhadap kebebasan berekspresi itu sendiri dan itu berarti pembunuhan karakter seseorang. Pendapat demikian itu sepenuhnya tidak bisa dibenarkan, karena kebebasan berekspresi dalam seni juga harus di batasi dengan seksualitas atau pornografi. Hal ini secara tidak langsung akan selalu di jumpai dalam dunia seni. Maka dari itu kebebasan berekspresi dalam dunia seni tidaklah sebebas sebagaimana makna dari kata kebebasan itu sendiri. Kebebasan akan selalu seiring dengan masalah sosial, nilai dan moral. Dimana kebebasan itu akan berhadapan dengan nilai-nilai kehidupan sosial manusia lain. Hal ini jelas dinyatakan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Oleh karenanya membatasi kebebasan berkesenian bukanlah berarti menghalangi hak untuk berekspresi secara umum, namun  lebih pada upaya agar tidak berbenturan dengan nilai sosial dan konsep moralitas  yang dianut orang lain.  Selain dari pada itu para pekerja seni dengan mengatasnamakan seni tidak bisa mendapatkan perlakuan instimewa yang menyebabkan mereka berhak mengekspresikan apapun tanpa batasan. Sebuah karya seni memang layak untuk dinikmati oleh semua orang, namun tetap pada batasan “seni” yang tidak melanggar  kelaziman  dari pengertian seni itu sendiri. Seorang pelukis/fotografer berhak/bebas membuat lukisan/gambar pria/wanita tanpa busana, namun peruntukkan hasil lukisannya mempunyai bersifat terbatas. Jika menjadi koleksi pribadi dan disimpan di tempat yang bersifat pribadi tentu sah adanya. Akan lain masalahnya jika dipertontonkan pada khalayak umum, karena saat itu juga standar nilai dan moral masyarakat harus menjadi bahan pertimbangan yang harus juga dihormati.

 

Sumber :

  1. http://www.asmakmalaikat.com/go/artikel/filsafat/Fil22.htm
  2. artikel karya B.Tjandra Wulandari, SH.,MH yang berjudul ”perempuan dan pornografi sebuah seni ataukah eksploitasi”.

 

About these ads

~ oleh abassusilo pada Desember 27, 2010.

3 Tanggapan to “antara seni dan pornografi”

  1. artikel tersebut sebagai pengumpulan tugas kelompok.

    daftar anggota kelompok :

    1. abas susilo // 08523198
    2. mahfuji // 08523243
    3. rudi hartanto // 08523217
    4. sedewo winarno // 08523210
    5. hertanto dwi. c // 08523197

  2. ok..terimakasih

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: